Salah satu pendiri Hamas mengatakan, tidak ada perdamaian dengan Israel sebelum rakyat Palestina mendapatkan keadilan. Dalam wawancara eksklusif dengan Sky News, Mahmoud Zahar menyambut baik gencatan senjata pada Kamis (20/5/2021).

"Saya pikir, poin terpenting adalah tingkat dampaknya bagi kedua kubu," jelas Zahar dilansir Minggu (23/5/2021). Pemimpin senior Hamas itu berujar, gencatan senjata yang dimediasi Mesir diterima baik oleh pihaknya maupun Israel.

"Untuk berapa lama? Saya pikir tidak ingin ada berniat melakukan eskalasi. Jadi tindakan ini akan berlangsung lama," paparnya. Sejak terjadi pada 10 Mei, konflik kedua kubu berlangsung selama 11 hari dan menewaskan 260 orang, kebanyakan korban berasal dari Jalur Gaza.

Meski begitu, Mahmoud Zahar mengeklaim kelompoknya sudah memperoleh kemenangan, baik strategis maupun simbolis. Dalam klaimnya, Zahar menjelaskan elemen terbarunya adalah bagaimana mereka mengatur pergerakan mereka.

Dalam melawan "Negeri Zionis", Zahar menyatakan mereka menyerang sejumlah target yang dianggap penting. "Termasuk di area yang populasinya padat. Jadi, sampai kapan Israel akan menahannya?" kata Zahar. Salah satu pendiri berusia 76 tahun tersebut membantah mereka menembakkan roket dari wilayah padat penduduk.

Meski Zahar membantah, video yang viral di internet menunjukkan milisi Hamas meluncurkan senjata dari kawasan ramai. "Tidak. Tidak ada roket yang ditembakkan dari area sipil. Semuanya ditembakkan dari perbatasan, yang tidak ada penduduknya," klaimnya.

Zahar juga menyanggah saat ditanya mengapa kelompoknya terang-terangan berniat menyerang kawasan sipil. Dia berkilah yang mereka serang bukan penduduknya, melainkan pendudukan. "Kami melawan agresi Israel. Tidak melawan masyarakatnya," ujar dia. Berdasarkan piagam aslinya pada 1988, Hamas memandang konflik ini sebagai perang agama melawan Yahudi.

Namun sejak revisi piagam pada 2017, mereka melunak dan menyerukan solusi dua negara berdasarkan perbatasan 1967. Selain itu, mereka menekankan bahwa perjuangan mereka bukanlah memerangi Yahudi, namun paham Zionis. Meski begitu, Dr Zahar menyatakan solusi dua negara merupakan kegagalan karena Tel Aviv tidak menginginkannya.

"Secara praktiknya, sudah gagal," beber Zahar. Dia menyebut faksi Palestina yang lebih moderat di Tepi Barat, Fatah, juga tidak bisa mengupayakannya. Dia pun mempersilakan untuk bertanya ke Presiden Palestina Mahmoud Abbas, apakah solusi tersebut masih relavan.

"Dia pasti bakal menjawab tidak. Israel tidak menginginkan adanya solusi dua negara," papar Dr Zahar. "Orang-orang duduk, berdiskusi, dan menandantangan kesepakatan yang kemudian gagal. Kini Anda meminta saya mengadopsi proses gagal tersebut?" tanyanya.

Zahar sempat terdiam saat ditanya apakah Negara Israel seharusnya dibiarkan untuk berdaulat sebelum menegaskan jawabannya. "Tidak. Mengapa? Anda datang dari Amerika dan mengambil rumah saya. Anda datang dari Inggris dan merampas rumah saudara saya. Ini pendudukan," keluhnya.

"Anda bukanlah warga. Kami adalah pemilik tanah ini. Tanah Arab. Tempat ini dikenal sebagai area Islam," jelasnya. Dia memberikan jawaban cukup pedas saat ditanya mengapa Hamas lebih fokus kepada pembelanjaan senjata dibanding rakyatnya.

"Beri saya satu contoh di dunia ini yang tidak punya kementerian pertahanan untuk melindungi mereka sendiri," paparnya. Dia berkata, tujuan mereka belanja senjata adalah berlindung dari agresi Israel.

"Jadi jika dilarang, munafik," sergahnya. Jurnalis Sky News Mark Stone kemudian membawa Zahar melihat rumah warga Gaza yang rusak terkena serangan udara Israel. "Satu pertanyaan terakhir. Bagaimana Anda mendefinisikan perdamaian?" tanya Stone. "Damai berarti adil, Tak ada perdamaian tanpa keadilan," jawab Zahar.

Sumber : Kompas.com